Kamis, 28 November 2013

Hutan Ulayat Semelinang Babu

Kamis, 28 November 2013

A. Sejarah Masyarakat Adat Semelinang

Undang-Undang Kesultanan Indragiri yang mulai dikonsep pada masa Sultan Alauddin Iskandar Syah Johan gelar Nara Singa II, Raja Keritang ke-IV Raja Indragiri ke-I (1508-1532) yang disempurnakan oleh Sultan Hasan Salahuddinsyah Sultan Indragiri ke-13 (1735-1765) menyebutkan struktur Kesultanan Indragiri sebagai berikut:

1. Struktur Pemerintahan Berdasarkan Lembaga Adat, Beraja nan Berdua, Berdatuk nan Berdua:

a. Raja Yang Berdua terdiri dari :

1) Yang Dipertuan Besar Sultan.

2) Yang Dipertuan Muda terdiri dari :

a) Sultan Muda di Peranap, memiliki kekuasaan dari batas Barat Indragiri hingga Japura ditambah Orang Laut di Enok.

b) Raja Muda di Rengat, memiliki kekuasaan dari hilir Japura hingga ke Kuala Indragiri.

b. Datuk nan Berdua terdiri dari:

1) Datuk Temenggung

2) Datuk Bendahara

2. Menteri nan Delapan, yang membantu Datuk Bendarahara :

a. Sri Paduka

b. Bentara

c. Bentara Luar

d. Bentara Dalam

e. Majalela

f. Panglima Dalam

g. Sida-sida

h. Panglima Muda

3. Tiga Datuk di Rantau, meliputi Orang Kaya-Orang Kaya:

a. Orang Kaya Setia Kumara di Lala.

b. Orang Kaya Setia Perkasa di Kelayang.

c. Orang Kaya Setia Perdana di Kotabaru.

4. Penghulu nan Tigalorong:

a. Raja Mahkota di Baturijal Kampung Hilir.

b. Lela Diraja di Baturijal Kampung Hulu.

c. Dana Lela di Pematang.

5. Kepala Pucuk Rantau:

a. Tun Tahir di Lubuk Ramo.

b. Datuk Bendahara di sebelah kanan.

c. Datuk Temenggung di sebelah kiri.

Orang Kaya Setia Kumara yang merupakan salah satu datuk di rantau dalam Undang-Undang Kesultanan Indragiri merupakan pucuk pimpinan adat dari masyarakat adat Lala yang membentang dari Kuala Lala menuju ke mata air Sungai Lala yang disebut Semelinang Babu serta sungai-sungai yang mengalir dari mata air Semelinang Babu serta jajahannya. Sungai-sungai tersebut meliputi :

1) Sungai Semelinang

2) Sungai Lala

3) Sungai Pelangko

4) Sungai Beras-Beras

Adapun jajahan masyarakat yang berpangkal mata air di Semelinang Babu ke utara hingga ke Sebokal Bakuak wilayah Pelalawan, ke hilir hingga Japura. Daerah jelajahan tersebut meliputi Semelinang, Binio, Pelangko, Lubuk Batu Tinggal, Rimpian, Paku, Bongkal Malang, Ujung Kebun, Lala, Redang Seko, Lirik dan Japura. Masyarakat adat yang dipimpin oleh Orang Kaya Setia Kumara ini memiliki bahasa dan adat istiadat yang memiliki kemiripan dengan orang Petalangan. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka merupakan masyarakat yang bertetangga dan berkemungkinan pada suatu waktu dahulu pernah bersatu dan kemudian berpisah karena perbedaan Kerajaan yang berdaulat di wilayah mereka.Kedua masyarakat ini disebut sebagai orang Mingkak, karena di dalam bahasanya memanggil orang kedua dengan panggilan mingkak.

Sebelum berdirinya Kerajaan-kerajaan di Indragiri dan Pelalawan, wilayah ini telah didiami oleh masyarakat Melayu. Setelah Hari Hara Agung (1336-1356) dari Kerajaan Wijayanegara, pendiri kota Wijayanegara yang pada masa itu kota terbesar kedua di Asia setelah Peking Cina, menaklukkan Dunia Melayu yang berakhir di Singapura, dunia Melayu mengalami kekosongan pemerintahan. Kekosongan ini baru berakhir setelah tiga orang putera Hari Hara Agung yang dalam dunia Melayu disebut Raja Suran memegang kekuasaan, yakni :

1. Sang Nila Utama gelar Sri Tribuana memerintah Palembang, Bintan , Singapura.

2. Sang Nila Pahlawan gelar Sang Sapurba memerintah Kuantan Pagaruyung.

3. Krisyna Pandita memerintah Tanjungpura Kalimantan.

Sejak itu wilayah Semelinang pun berada dalam genggaman Pagaruyung.

Pada masa Raja Iskandar Syah memerintah di Singapura, Singapura diserang oleh Jawa. Sesuai dengan kelaziman raja-raja Melayu, apabila ibukota dianggap sial, maka raja akan memindahkan kerajaannya, maka bermulalah Kerajaan Malaka. Tersebab pengalaman di Singapura, kelemahan Singapura adalah ketergantungan pasokan beras dari Siam dan Jawa yang justru musuh bebuyutannya, maka Malaka kemudian berusaha berswasembada beras. Pada saat itu, penghasil beras di Melayu adalah Rokan dan Keritang. Malaka kemudian menguasai satu persatu Kerajaan-kerajaan di Riau. Sultan Muhammad Syah memperistri putri Rokan, sejak itu Rokan yang semula berada di bawah pengaruh Kesultanan Aru Sumatera Utara menjadi wilayah Malaka.

Kampar dan Siak yang berada di bawah Pagaruyung ditaklukkan oleh Sultan Mansyur Syah. Sultan Mansyur Syah mengirim Seri Nara Diraja yang dibantu Sang Setia, Sang Naya, Sang Guna, Khoja Baba menyerang Kampar. Maharaja Jaya yang memerintah di Pekantua dan mangkubuminya Tun Demang akhirnya tewas. Seri Nara Diraja diangkat sebagai Adipati Kampar dan Khoja Baba diberi gelar Akhtiar Muluk.

Setelah Kampar takluk, Sultan Mansyur Syah mengirim Seri Udana yang dibantu Sang Jaya Pikrama, Sang Surana, Sang Aria, Akhtiar Muluk (Khoja Baba) menyerang Raja Siak Maharaja Parameswasra. Maharaja Parameswara tewas, puteranya Megat Kudu dan mangkubuminya Tun Jana Pakibul ditawan ke Malaka. Megat Kudu dikawinkan dengan puteri Mansyur Syah Raja Mahadewi dan menjadi raja Siak di bawah pengaruh Melaka dengan gelar Sultan Ibrahim dengan mangkubumi Tun Jana Pakibul.

Sebelum penyerangan ke Kampar dan Siak tersebut, Sultan Mansyur Syah telah meminang Raden Galuh Candra Kirana puteri Batara Majapahit. Dalam peminangan tersebut, Tun Bijaya Sura meminta Indragiri, Hang Jabat meminta Tungkal dan Hang Tuah meminta Siantan.Sepulangnya dari Majapahit, Sultan Mansyur Syah mengambil Raja Merlang dan mengawinkannya dengan putrinya Putri Bakal. Raja Merlang tetap diakui sebagai Raja Indragiri tetapi tidak diperkenankan keluar dari Melaka.

Selama Raja Indragiri di Malaka, maka pemerintahan Indragiri dijalankan oleh Datuk Patih dan Datuk Temenggung Kuning (1473 – 1508). Pada saat itu, daerah sepanjang sungai yang mengalir dari Semelinang Babu dan daerah sebelah kanan Indragiri lainnya ini dipercayakan kepada Datuk Rangkayo Setia Kemaro.

Contributor blog: Ghobro

Bookmark and Share

Posting terkait:



0 komentar:

Posting Komentar

 
Peranap. Design by Pocket. Content by Serangge